Penggantian
menteri keuangan Jepang saat ini dapat meningkatkan keprihatinan
tentang komitmen dunia tentang utang publik terbesar, menurut
komentar Moody's Investors Service.
Strategi fiskal Jepang yang tidak diketahui dan tiba-tiba muncul dapat memperdalam resesi dengan pengangkatan Naoto Kan minggu lalu" menurut pernyataan Thomas Byrne, Senior Vice President Moody's di Singapura, menulis dalam sebuah catatan kemarin. Sikap Byrne kontras dengan analis di Goldman Sachs Group Inc dan Morgan Stanley, yang mengatakan bahwa pernyataan Kan telah menunjukkan kesediaan untuk memperbaiki keuangan Jepang. Eks wakil perdana menteri berumur 63 tahun, Kan menyampaikan pidato pembukaan yang mengejutkan pasar.
Kan juga akan berjuang untuk mempertahankan disiplin fiskal tahun ini dan ia akan mencoba untuk mendapatkan dana untuk memenuhi Partai Demokrat yang berkuasa di Jepang tanpa memperparah beban utang. Perubahan peran juga "menimbulkan keraguan" atas komitmen pemerintah untuk melunasi utang 44 trilyun yen ($ 480 milyar) dalam bentuk obligasi.
Rating Utang
Tingkat utang Jepang berada pada Aa2. Byrne berkomentar bahwa "pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan pengurangan defisit dan utang akan membuat Jepang menjadi pulih".
Catatan Anggaran
Fujii, 77, mengundurkan diri pekan lalu setelah kesehatannya memburuk minggu-minggu ini. Penggantinya Kan dilantik oleh Perdana Menteri Yukio Hatoyama pada tanggal 25 Desember 2009 lalu. Kan, yang akan tetap sebagai pemimpin dan wakil menteri ekonomi dan kebijakan fiskal, akan mencoba untuk mendapatkan persetujuan usulan dana 92.3 trilyun yen.
Atsushi Itō, analis Morgan Stanley, mengatakan bahwa pasar telah salah mengerti tentang pernyataan Kan minggu lalu. Pernyataan tentang "pelemahan Yen" tidak didasarkan pada peningkatan pengeluaran untuk memacu perekonomian. "Dia bukan ekspansionis fiskal," kata Ito berbasis di Tokyo. "Dia ingin mencapai campuran kebijakan penghematan fiskal & moneter dengan cara melemahkan Yen".
Utang Jepang diproyeksikan akan meningkat menjadi 246 persen pada tahun 2014, dibandingkan dengan 108 persen untuk Amerika Serikat dan 89 persen untuk Jerman, menurut sebuah laporan Dana Moneter Internasional dirilis pada bulan November silam.
Sumber :
Bloomberg.com (13 Jan 2010, 11.51 WIB)
| < Prev | Next > |
|---|















