
Bank Sentral Jepang mungkin akan menghadapi peningkatan tekanan politik untuk menangani deflasi karena pemerintah berusaha untuk menghilangkan ancaman resesi pada parlemen di bulan Juli. Menteri Keuangan Naoto Kan, pada minggu kedua di kantor setelah menggantikan Hirohisa Fujii, mengatakan kemarin bahwa "masih ada berbagai langkah kebijakan yang dapat diambil" oleh Bank of Japan. Ia juga memuji tindakan BoJ pada 1 Desember 2009 lalu mengenai program pinjaman 10 trillion yen ($ 109 milyar) untuk mengatasi
inflasi."Kan mungkin ingin bank sentral untuk memberi lebih banyak stimulus terhadap perekonomian"kata Hiromichi Shirakawa, mantan pejabat bank sentral yang sekarang kepala ekonom pada Credit Suisse Group AG di Tokyo.
Pelemahan Yen
Pada 7 Januari lalu, Kan mengatakan dalam pidato pengukuhannya bahwa ia ingin BoJ menjaga yen pada sebuah tingkat yang tepat dan ingin ada pelemahan "sedikit" lagi. Tanggal 8 Januari Kan mengatakan bahwa program pinjaman dana BoJ harus "memiliki dampak yang cukup besar" dalam murahnya mata uang dan meningkatkan pasar saham.
Tapi di hari Jumat 8 Januari Gubernur Masaaki Shirakawa dan koleganya mempertimbangkan tindakan lebih lanjut pernyataan Kan dan ingin Yen menguat setidaknya hingga ke 85 Yen per dollar. Pernyataan tersebut juga dinyatakan oleh mantan pejabat Bank of Japan Hideo Kumano.
Risiko resesi
Resesi double-dip di Jepang akan memburuk jika ekonomi luar negeri, yang mungkin akan membuat pasar mata uang yang stabil dan memperkuat yen,"kepala ekonom Dai-Ichi Life Research Institute di Tokyo.
Sumber :
Bloomberg.com (15 Jan 2010)
| < Prev | Next > |
|---|














