Subprime Mortgage, Bailout, dan Ancaman Depresi Global

User Rating: / 29
PoorBest 

crissis.jpgPada tahun 2003, Joseph E. Stiglitz, pemenang nobel ekonomi tahun 2001 menyampaikan bahwa ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perkembangan yang tidak sehat dan dapat memicu terjadinya resesi. Rendahnya tingkat suku bunga pada waktu itu, kurangnya pengaturan dan terlalu bergantungnya pertumbuhan ekonomi pada sektor properti menjadi penyebabnya.  Siapa sangka, 5 tahun kemudian tidak hanya Amerika Serikat tetapi dunia menghadapi ancaman depresi global terbesar pada abad 21?

Awal Petaka

Petaka krisis dimulai jauh hari ketika WTC diruntuhkan oleh serangan teroris yang memicu kekhawatiran terjadinya resesi global pada waktu itu. Maklum meskipun hanya satu gedung, runtuhnya WTC memberikan implikasi yang cukup luas dari tali temali bisnis (WTC merupakan salah satu tempat institusi keuangan global bermarkas) hingga diragukannya Amerika sebagai negara yang aman dalam melakukan kegiatan bisnis.

Dalam kondisi kepanikan pasca serangan, Fed sebagai otoritas moneter Amerika mau tidak mau harus menjaga kestabilan mata uang sekaligus menjaga dana tidak lari keluar yang dapat mematikan sektor riil. Bagaimana caranya? Yang paling mudah adalah dengan memangkas suku bunga hingga dibawah 2% dari tahun 2001 hingga tahun 2004.  Dengan demikian suku bunga pinjaman dapat ditekan pada level yang rendah sekaligus menjaga pembangunan sektor riil tidak mandeg setelah pasca serangan.

 Dan itu berhasil. Sektor perumahan menjadi salah satu sektor yang berkembang. Ancaman resesi dapat dihindari. Semua negara memuji langkah cepat yang diambil Fed.

 

 

gambar-grafik.jpg
 

Sayangnya hal ini tidak dapat berlangsung lama. Rendahnya suku bunga ditambah lemahnya regulasi membuat perkembangan kredit disektor perumahan menjadi bola liar yang tidak terkendali. Sebelumnya perlu kita ketahui bersama bahwa bagi rakyat Amerika kebanyakan, properti merupakan hal yang sangat familiar kalau tidak bisa dikatakan sebagai pondasi ekonomi mereka. Satu dari tujuh warga yang bekerja di Amerika Serikat biasanya bekerja pada perusahaan yang terkait dengan perumahan baik itu langsung atau tidak langsung. Disinilah celah resesi mulai terkuak. Perbankan dengan semangatnya membuka kredit bagi nasabahnya yang berkeinginan memiliki rumah berhubung rendahnya acuan suku bunga pinjaman dari Fed.

Dalam dunia kredit mengkredit (diluar kredit panci, kompor atau baskom ala Indonesia...) dikenal tingkatan dari yang memiliki tingkat gagal bayar rendah (prime) hingga yang memiliki tingkat gagal bayar tinggi alias tukang kemplang hutang (sub prime). Nah bagi nasabah yang memiliki tingkat gagal bayar tinggi tentu saja ini merupakan resiko bagi perbankan. Untuk menanganinya biasanya para kreditur Sub Prime ini diberikan bunga yang lebih tinggi dari pada kreditur bergolongan prime.

 Tapi coba lihat dari sisi si kreditur berkategori sub prime ini. Dengan kemampuan finansial yang pas-pasan mereka harus mengambil kredit dengan bunga tinggi yang justru memperbesar resiko mereka mengalami gagal bayar.

Kondisi ini diperparah dengan dikeluarkannya berbagai produk derivatif (turunan) berbasiskan perumahan. Produk seperti CDS (Credit Default Swap) atau CDO (Collaterzed Debt Obligation) yang juga erat berkaitan dengan surat-surat utang dari perumahan ramai dikeluarkan semenjak tahun 2001. CDS sendiri yang pada dasarnya adalah sebuah surat jaminan yang dikeluarkan perusahaan asuransi apabila sebuah surat utang mengalami gagal bayar memiliki kapitalisasi pasar hingga 68 Triliun Dollar US (Kompas 10/8/08). Jauh lebih besar semenjak tahun pertama dikeluarkannya yang hanya miliaran Dollar.

Lain CDS lain lagi CDO. Bila CDS relatif lebih jelas rimba rayanya dikarenakan dapat ditelusuri siapa pembelinya, produk turunan seperti CDO lebih sulit dilacak. CDO bebas diperjual belikan di pasar tanpa perlu pencatatan siapa pembelinya dan memiliki kategori AAA hingga yang tergolong junk. Gunanya adalah sama, sebagai penjamin bila terjadi kegagalan bayar dari sebuah debt issuer. Namun justru produk-produk seperti inilah yang pada akhirnya menggoyahkan fundamental ekonomi karena sederhananya merupakan aksi menutup hutang dengan hutang baru. Produk-produk seperti inilah yang menjadi pintu menyebarnya krisis perumahan ke berbagai sektor.

Dengan perkembangan ekonomi global terutama negara berkembang seperti India dan China yang membutuhkan banyak energi dan bahan-bahan tambang untuk pembangunan mereka, harga komoditas dunia pun ikut merangkak naik. Ini memicu terjadinya inflasi yang juga mengimbas Amerika Serikat.

Maka suku bunga harus dinaikkan.

Era suku bunga rendah mulai ditinggalkan dan diganti dengan kenaikkan bertahap suku bunga hingga mencapai 5.25%.

Dengan demikian bom waktu yang telah terpasang pun meledak. Para kreditur sub prime mulai kehilangan kemampuan membayar kredit rumah mereka. Kemacetan terjadi kemana-mana dan karena yang terlibat di sektor perumahan ini bukan hanya perusahaan pembiayaan perumahan tapi juga bank-bank investasi besar dan juga seluruh dunia, mau tidak mau imbasnya pun sampai kemana-mana.

Sebenarnya krisis subprime mortgage ini sudah dimulai sejak awal tahun 2007 dan mulai memanas semenjak jatuhnya Bear Stearns Mei 2008 dan kemudian dibeli oleh JP Morgan Chase dengan dana pinjaman dari Fed. Dari sini krisis bergulir dan ternyata kebobrokan demi kebobrokan mulai terungkap.

 

Dampak Subprime

Satu demi satu korporasi besar mengalami kesulitan dana dikarenakan banyaknya toxic assests yang dimiliki karena kemacetan kredit rumah. Citigroup, bank terbesar dari sisi aset dan pendapatan "terpaksa" menerima bantuan suntikan dana sebesar $7.5 Milyar dari Abu Dhabi Investment Authority. Negara kaya minyak ini sepertinya mulai melirik korporasi besar untuk memutar uang berlebih hasil penjualan minyak mereka.

Krisis pun terus bergulir. Meski Fed telah memotong kembali tingkat suku bunga ke level 2% (belakangan hingga ke level 1.5%), kredit macet yang telah terjadi menimbulkan krisis kepercayaan dan menyebabkan sulitnya pinjaman diperoleh, khususnya pinjaman antar korporasi. Perusahaan yang kadung telah memiliki aset-aset beracun kesulitan untuk mendapatkan dana segar guna menjalankan operasi bisnis mereka.

Fanny Mae dan Fredie Mac, perusahaan pendanaan perumahan Amerika terpaksa harus di bail out oleh pemerintah US untuk mencegah kebankrutannya. Kedua perusahaan ini dikatakan too big to fail dikarenakan nyaris 80% pembiayaan perumahan berasal dari kedua perusahaan ini. Dengan menyediakan dana talangan masing-masing 100 milyar Dollar, diharapkan kedua perusahaan ini dapat beroperasi dan tetap menyediakan sumber pendanaan bagi rakyat Amerika.

Hal yang sama pun terjadi pada AIG. Perusahaan asuransi raksasa US ini juga terpaksa di nasionalisasikan oleh pemerintahan Bush dengan menggelontorkan dana 80 Milyar Dollar. Alasannya tetap sama dengan Fanny dan Freddie: mencegah kepanikan dan kerusakan sistemik lebih jauh bila perusahaan ini berhenti beroperasi. Entahlah apa artinya bagi mereka yang awam pernyataan seperti itu.

Kadang enak juga kalau dipikir-pikir bila memiliki korporasi besar. Untung berkali lipat, dan bila bankrut pun masih ditolong.

Tapi tidak semua korporasi di bail out oleh pemerintah US. Lehman Brothers contohnya. Bank investasi yang telah berusia 148 tahun ini pun terpaksa memasuki chapter 11 (UU perlindungan bankrut) pada tanggal 15 September 2008. Setelah berupaya kesana kemari mencari bantuan dana segar yang (untungnya) didapat oleh Citigroup, AIG, Fannie dan Freddie, Lehman gagal mendapatkannya dan mau tidak mau menyatakan diri bankrut.

Tragis memang mengingat Lehman merupakan bank investasi terbesar ke-empat di Amerika dan salah satu perusahaan investasi yang disegani dunia. Dengan reputasi besar, sebelum krisis Subprime meledak, surat-surat utang yang diterbitkan Lehman biasanya diakui sebagai surat utang yang dapat dipercaya. Reputasi 148 tahun hancur dalam waktu kurang satu tahun.

 

Dari Amerika ke Eropa

Setelah lama terkarantina di Amerika, krisis akhirnya pun turut menyebar seiring dengan mulai gagal bayarnya berbagai surat utang yang dibeli dari korporasi US. Uni Eropa sebagai kawan terdekat yang paling terkena dampaknya. HBOS, dan RBS, bank Inggris terpaksa dibeli atau mendapatkan bantuan suntikan dana.

Fortis, perusahaan investasi asal Belgia yang notabene sangat terkenal reksadana sahamnya di Indonesia pun juga tak urung mendapatkan bantuan pemerintahan Uni Eropa. Dexia, Hypos dan berbagai nama perusahaan yang mungkin asing ditelinga orang awam tapi memiliki aset milyaran Dollar, satu demi satu meminta bantuan dari Bank Sentral.

Sulit untuk menentukan berapa besaran yang pasti kerugian yang dicapai akibat krisis subprime ini. Bloomberg mencatat angka 600 milyar Dollar lebih sebagai besaran kerugian yang telah terjadi dan masih mungkin sekali bertambah.  Belum lagi kerugian di negara-negara lain seperti Jepang, Uni Eropa, Inggris dan juga Canada yang acap kali membeli surat-surat utang dari bank-bank US.

Bahkan China pun tidak luput dari kerugian langsung krisis Subprime ini. Dengan cadangan devisa terbesar didunia (mencapai lebih dari $1.4 Triliun) hampir separuhnya ditanamkan pada surat-surat utang pemerintahan US. Meskipun sudah sejak tahun lalu China menghentikan kegiatan ini kerugian yang terjadi pun tidak sedikit. Kemungkinan bisa mencapai ratusan milyar Dollar.

Yah. Angka yang keluar memang terbilang fantastis. Besaran Jutaan Dollar sudah tidak bermain disini tapi sudah ke Milyaran Dollar bahkan menuju Triliunan Dollar. Kerugian ini belum menghitung mandegnya sektor riil, macetnya ekspor, dan juga kerugian tidak langsung lainnya seperti kehilangan pekerjaan, harta benda dan sulitnya mendapatkan kepercayaan bank. Jangan tanyakan lagi kerugian mental. Para petinggi Wall Street sana tentu saja mengalami sakit kepala yang hebat memikirikan jalan keluar menyelamatkan usaha mereka sekaligus menghadapi tuntutan pemerintah karena disinyalir terlalu rakus. Beberapa demonstran bahkan mengganti nama Wall Street dengan Fraud Street (Fraud = penipuan).

 

Bailout 700 Milyar. Berhasilkah?

Dalam kondisi yang carut marut seperti ini mau tidak mau tempat berlari adalah kembali kepada pemerintah. Kongres AS terpaksa menyetujui bantuan bailout sebesar 700 milyar USD guna mencegah kerugian lebih lanjut. Dana ini rencananya akan diberikan dalam tiga termin dengan besaran $250 Milyar, $100 Milyar dan $350 Milyar. Masing masing dengan alokasi yang berbeda. Tujuannya hanya satu: mencegah kepanikan lebih lanjut dan kerugian yang lebih dalam. Pemerintah juga terpaksa membeli aset-aset bermasalah yang menjadi biang kerok calon krisis dunia ini dengan harapan bank dapat kembali menjalankan fungsi mereka sebagai lembaga penyalur kredit.

Berhasilkah?

Semua orang menanyakan pertanyaan yang sama. Tapi sama seperti krisis tidak terbentuk dalam satu hari, penyembuhannya juga tidak dapat dilakukan dalam satu hari. Bailout memang sedikit banyak menenangkan Wall Street, tetapi kekhawatiran masih terus berlanjut. Hingga artikel ini dibuat, Dow Jones telah merosot melewati level psikologis 10.000 dan meluncur hinggak ke 8600. Terrendah dalam beberapa tahun terakhir ini. Berbagai rekor negatif baru tercipta menandakan pasar masih belum percaya bahwa yang terburuk sudah berakhir.

Sebagian besar justru percaya bahwa yang lebih buruk masih akan datang.

Pemerintah Uni Eropa pun tidak ketinggalan. Meski menggunakan pendekatan yang relatif berbeda, setiap negara Uni Eropa dan juga Jepang menggelontorkan ratusan Milyar Euro untuk menjaga likuiditas pasar.  Meski demikian bursa-bursa dunia terus berjatuhan.  Berikut adalah posisi indeks berbagai bursa dunia pada saat artikel ini dibuat: 

Name

Last Trade

(10 Oct 08 15:25 WIB)

 

 

All Ordinaries

3,939.50

 

 

Shanghai Composite

2,000.57

 

 

Hang Seng

14,675.8

 

 

Dow Jones Index

8,579.19

 

 

Jakarta Composite

1,451.67

 

 

KLSE Composite

968.89

 

 

Nikkei 225

8,276.43

 

 

NZSE 50

2,805.31

 

 

Straits Times

1,943.96

 

 

Seoul Composite

1,241.47

 

 

Taiwan Weighted

5,130.71

 

 

 

Sekedar patokkan, Dow Jones pernah mencapai titik tertingginya di level 14.000an dan IHSG di 2800an. Jadi kurang lebih telah mengalami penurunan 50%.

Lalu akankah krisis akan terus menerus terjadi. Tentu saja tidak! Market akan menemukan kembali titik keseimbangannya dengan cara mereka sendiri. Setiap kepanikan pada akhirnya akan berhenti dan kembali ke titik normal bahkan mungkin saja kembali ke titik serakah seperti sebelum krisis. Memang demikianlah dinamika pasar. Justru mereka yang jeli melihat akan mengetahui bahwa masa-masa panik massal terjadi justru adalah kesempatan terbaik membeli dengan harga murah.

 

USD Dollar, Euro, Yen dan Rupiah?

Ok, berhubung Belajar Forex adalah portal edukasi yang menitik beratkan forex trading tentu rasanya kurang afdol bila tidak membahas perkembangan beberapa major currencies di dunia. Kali ini mari kita fokuskan pada beberapa mata uang utama saja.

 Yang pertama tentu saja US Dollar. Kalau kita perhatikan bersama semenjak pecahnya kepanikan massal yang dipicu bankrutnya Lehman Brothers, Dollar terus menerus mengalami penguatan. Dari mana logika ini berasal? Bukankah seharusnya bila sebuah negara mengalami krisis mata uangnya akan melemah?

Well, memang benar secara jangka panjang mata uang sebuah negara cenderung melemah dimasa resesi ekonomi. Namun demikian untuk jangka pendek (yang artinya bisa beberapa minggu hingga bulan) Dollar justru memiliki kesempatan besar untuk terus menguat dikarenakan minimnya likuiditas mata uang. Seperti telah dibahas di atas bahwa pada saat ini bank-bank besar tidak dapat lagi sembarangan menyalurkan kredit mereka karena setiap institusi sangat membutuhkan dana cash untuk membiayai semua kegiatan bisnis mereka. Hal ini mengakibatkan kegiatan menimbun uang yang mirip sekali dengan masa-masa bencana alam terjadi dimana masyarakat ramai-ramai menimbun sembako. Kali ini yang menjadi sembako tentu saja Dollar. Dollar ramai diburu berhubung memang mata uang satu ini masih dijadikan patokan banyak perusahaan untuk total dana yang dimiliki. Itulah penyebabnya Dollar terus menerus menguat belakangan ini.

Itu sebabnya kita menyaksikan bersama bahwa USD menguat hampir disemua pasangan mata uang kecuali Yen Jepang. Mengapa Yen justru menguat terhadap Dollar? Ini juga menjadi pertanyaan. Jawabannya ada pada istilah unwinding carry trade alias pembalikan dari aksi carry trade. Bila selama masa carry trade berlangsung investor cenderung meminjam Yen Jepang (berhubung suku bunga yang hanya 0.5% - 12/10/08) dan menaruhnya pada negara-negara bersuku bunga tinggi seperti Australia atau Selandia Baru, pada masa krisis terjadi, dana-dana tersebut mulai kembali ditarik dan dikembalikan ke mata uang negara asalnya. Itu sebabnya terjadi banyak pembelian terhadap Yen Jepang yang mengakibatkan mata uang ini justru menguat. Belum lagi anggapan psikologis kebanyakan investor bahwa Jepang dengan Yen-nya adalah mata uang spesialis krisis dimana lebih stabil pada masa-masa tidak tentu. Mirip-mirip dengan emas.

Untuk Euro dan Rupiah kondisinya tidak jauh berbeda dengan mata uang negara lain. Keduanya melemah terhadap Dollar. Hanya saja Uni Eropa memang sedang mengalami imbas krisis dengan Dexia, Hypo dan Fortis sebagai contoh utamanya sedangkan Indonesia sebenarnya tidak atau belum mengalami krisis apa pun secara fundamental dan hanya terpengaruh berhubung banyak dana asing yang keluar. Itu sebabnya kita menyaksikan Rupiah terkerek naik hingga melewati Rp 10.000 per Dollar dan Euro juga mengalami nasib yang serupa.

Kalau diperhatikan ketika krisis mulai merebak dan sebagian bank sentral memotong suku bunga mereka, BI sebagai otoritas moneter Indonesia justru menaikkan BI rate. Beberapa analis menyalahkan tindakan BI yang menaikkan suku bunga karena dinilai kontra produktif untuk kredit perbankan. Namun demikian, pada dasarnya BI memiliki dasar yang logis untuk menaikkan suku bunganya. Pertama, laju inflasi Indonesia berbeda dengan laju inflasi negara maju. Kalau di negara maju laju inflasi sudah menurun berhubung lesunya ekonomi, Indonesia masih harus menghadapi naiknya inflasi. Bisa dikatakan hingga artikel ini dibuat, ekonomi masyarakat masih belum terpengaruh dengan imbas krisis finansial dunia. Memang BEI sempat di suspen berhubung anjlok lebih dari 10% dalam waktu beberapa jam saja. Tapi itu pun tidak bisa mewakili kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Hanya 0.5% masyarakat yang berpartisipasi didalamnya.

Alasan lainnya tentu saja untuk menjaga laju depresiasi Rupiah yang bila dibiarkan terlalu volatile justru akan memukul langsung roda ekonomi. Bila Rupiah melemah dengan drastis maka para pelaku ekonomi akan merasakan dampak pukulan langsung dimulai dari mahalnya harga barang-barang impor, sulitnya penjual menjual produk-produk mereka hingga akan semakin maraknya aksi spekulasi yang justru mendorong Rupiah turun lebih dalam.

Dengan alasan-alasan di atas, masuk diakal BI justru mengambil langkah berlawanan dengan menaikkan suku bunganya. Dengan menaikkan suku bunga diharapkan dana investor yang telah terlanjur keluar dapat kembali masuk ke pasar domestik atau setidaknya dana yang masih ada di Indonesia tidak keluar lebih lanjut. Memang ini adalah double edge side dari pasar investasi finansial seperti bursa saham atau pasar valuta asing yaitu likuidnya arus uang. Mudah masuk tapi juga mudah keluar.

 

Dampak Krisis Dunia ke Sektor Riil Indonesia

Pertanyaan lain yang perlu kita simak adalah bagaimana efek krisis yang sedang terjadi dengan sektor riil perekonomian Indonesia. Pintu masuk hantu krisis kali ini justru bukan terletak pada ambruknya BEI sebagai pusat perdagangan pasar modal Indonesia. Menurut Wapres Jusuf Kalla, BEI hanyalah 0.5% dari kapitalisasi ekonomi Indonesia. Berbeda dengan Wallstreet-nya Amerika yang mencapai 150%.

Pintu masuknya ada pada kurs Rupiah yang dikhawatirkan akan terus menerus melemah terhadap Dollar dan melemahnya pasar ekspor-impor tiap-tiap negara. Kedua kondisi ini merupakan pintu masuk krisis karena lazim kita ketahui di era globalisasi, tidak ada negara yang perekonomiannya independen dan tidak terpengaruh dengan ekonomi negara lain. Tidak juga Cina yang dibanggakan dengan cadangan devisanya yang terbesar. Mungkin ada beberapa pengecualian seperti Myanmar dan Korut. Tapi itu pun kondisi ekonominya tidak lebih baik dengan Indonesia.

Dengan melemahnya Rupiah, katakanlah hingga ke level Rp. 15.000 per Dollar maka tentu saja akan sangat memberatkan kegiatan impor Indonesia terutama impor barang-barang elektronik, beberapa komoditas pertanian hingga otomotif. Para importir mau tidak mau menerima barang dengan harga tinggi dan juga terpaksa menjualnya dengan harga yang lebih tinggi. Dengan demikian daya beli akan melemah. Beberapa sektor produksi akan terhambat kegiatannya berhubung terkurasnya modal untuk pembelian alat-alat produksi dan juga pembayaran hutang-hutang yang akan jatuh tempo.

Dilain sisi kondisi ekspor mungkin sepertinya terlihat menggembirakan karena Dollar yang menguat. Tapi jangan lupakan bahwa daya beli negara tujuan pun melemah karena bank sebagai sumber pembiayaan mengalami kesulitan likuiditas sehingga tidak dapat menyalurkan kredit dengan lancar. Pendek kata semua pihak merugi dalam kondisi finansial krisis sekarang.

Pada akhirnya masyarakat awam hanyalah merasakan naiknya barang-barang elektronik seperti Komputer, Telepon Seluler atau sebuah mobil baru. Begitu juga pelaku usaha yang hendak membeli mesin-mesin baru, membayar hutang-hutang mereka dan yang terakhir tentu saja Anda yang hendak membuka sebuah account forex baru pada pialang luar negeri.

 

Add comment

Fasilitas ini disediakan untuk komunikasi dengan bahasa yang sopan. Tidak diizinkan melakukan aktifitas iklan, promosi, penghinaan, pencemaran nama baik, hal berkaitan sara. Pelanggaran akan dikenai sanksi tegas.


Security code
Refresh

belajarforex.com