Akankah Amerika Mengalami Stagflasi?

User Rating: / 9
PoorBest 

Overview

Stagflasi adalah kondisi melambatnya pertumbuhan ekonomi, tingginya angka inflasi dan juga pengangguran. Amerika Serikat pernah mengalami Stagflasi pada tahun 1970 an semasa pemerintahan Jimmy Carter. Kasus pada masa itu hampir mirip dengan apa yang terjadi saat ini. Dipicu dengan naiknya harga minyak karena krisis perang dingin, harga barang pun mulai beranjak naik. Perlahan namun pasti inflasi berkembang dan sebagai akibatnya masyarakat mulai menaruh asset yang mereka miliki pada barang-barang bahkan produk-produk consumer goods. 

Kondisi ini menjadi sebuah lingkaran spiral dikarenakan ketika barang-barang semakin diburu masyarakat, otomatis harga barang bergerak naik dan inflasi bertambah. Pada akhirnya pemerintah dan para pemiliki bisnis terpaksa untuk menaikkan standar upah harian dikarenakan tingginya harga barang. Akibatnya, perekonomian menjadi mandeg karena daya saing melemah dan ekspor turun. Kondisi spiral inilah yang disebut Stagflasi. Gabungan dari inflasi dan mandeg-nya perekonomian (resesi)

Langkah yang diambil saat itu adalah dengan memberikan subsidi kepada masyarakat, mengawasi tingkat tenaga kerja dan upah dan juga memonitor harga barang dan jasa yang saat itu berlaku. Fed kala itu juga mengambil tindakan untuk menaikan tingkat suku bunga.

Pada prakteknya, Stagflasi bukan saja disebabkan oleh faktor luar seperti apa yang dialami oleh Amerika pada tahun 70an tersebut. Dalam banyak kasus, Stagflasi juga dapat disebabkan oleh kesalahan pengaturan peredaran uang (biasanya penambahan jumlah uang yang beredar secara tidak terkontrol) atau juga ketidakmampuan pemerintah dalam menstimulus kegiatan ekonomi. Selain beberapa faktor yang telah disinggung di atas, pada dasarnya ada banyak penyebab terjadinya sebuah Stagflasi.

 

Efek Stagflasi pada Sebuah Negara 

52013.jpgAkibat secara umum dari Stagflasi adalah menurunnya angka konsumsi dan tingkat kredit untuk bisnis dan investasi di masyarakat. Stagflasi yang berkepanjangan akan menyebabkan resesi global (Malaise - lesunya perekonomian dunia).

 

Ada tiga efek utama ketika Stagflasi terjadi

-  Tingginya tingkat pengangguran.
-
Naiknya harga barang-jasa melebihi tingkat wajarnya.
- Pertumbuhan ekonomi yang melemah atau bahkan negatif. 

Well, dalam kondisi terburuk, sebuah Stagflasi bukan saja berakibat pada satu negara saja. Semenjak tidak ada satu pun negara di dunia ini yang mampu memenuhi kebutuhan internalnya secara independen (kecuali Korea Utara atau Myanmar barangkali...), biasanya Stagflasi yang berkepanjangan juga turut membawa kelesuan ekonomi pada negara lain. Dalam kasus Stagflasi yang dialami oleh negara-negara besar seperti US, Stagflasi dapat membawa bencana ekonomi bagi dunia.

Dimata seorang ibu rumah tangga biasa, sebuah Stagflasi bisa berarti hidup yang semakin sulit dikarenakan harga barang dan jasa yang naik, suami yang di PHK lantaran perusahaan tidak mampu lagi menghidupi karyawannya, dan tidak adanya lapangan kerja baru untuk para mahasiswa yang baru lulus. Nah dari sini silakan pikirkan sendiri efek lanjutannya dari sisi kesehatan, kesejahteraan bahkan kelanggengan sebuah rumah tangga.

 

Belajarforex Says

Stagflasi menyebabkan banyaknya pengangguran dan diikuti oleh tingginya angka inflasi. Negara manpun pasti resah dengan kondisi stagflasi. Membiarkan kondisi tersebut juga dapat menyebabkan bertambahnya angka kemiskinan dan jika mengambil tindakan menaikan tingkat suku bunga maka dapat menyebabkan tingginya suku bunga kredit pinjaman kepada masyarakat.

Untuk menanggulangi Stagflasi, Bank Sentral memiliki peran yang sangat penting dibanding lembaga ekonomi negara lainnya. Pemilihan obat yang tepat sangat diperlukan disini. Dalam kasus tertentu sebuah Stagflasi dapat ditangani dengan menurunkan supply uang dan menekan laju inflasi dengan menaikkan suku bunga secara ekstrim (seperti yang dilakukan Gubernur Fed era 70an, Paul Volcker). Namun untuk kondisi yang dialami US saat ini, jelas menaikkan suku bunga adalah sebuah tindakan yang tidak tepat. Justru sebaliknya, dikarenakan gejala Stagflasi dimulai dari runtuhnya sektor kredit Subprime, maka untuk memulihkannya Bank Sentral justru harus menurunkan dahulu suku bunga untuk mencegah kredit macet berkembang. Setelah itu barulah inflasi dapat diperangi.

Dilain sisi, pemerintah juga dapat juga mencari investor asing agar berbisnis dan berinvestasi di negerinya sehingga roda ekonomi dapat kembali berputar tanpa pemerintah harus mengeluarkan uang lagi. Diharapkan dengan berputarnya roda ekonomi karena modal asing, perekonomian kembali bangkit dan daya beli menjadi pulih.

 

Jujur, Akankah US Mengalami Stagflasi Kembali

weakdollar.gif
Taken from philstockworld.com

 

Well, Anda menginkan jawaban yang jujur? Sejujurnya kami pun masih belum mengetahuinya. 

Seandainya harga minyak masih terus didorong naik oleh para spekulan hingga mencapai 150 USD per barrel dan laporan kerugian di sektor finansial seperti yang dialami Bear Stearns berlanjut, akankah US mengalami Stagflasi. Jawabannya sangat bergantung pada seberapa cepat harga minyak terus merangkak naik. Apabila semua asumsi tersebut memang benar terjadi dan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat, besar kemungkinan resesi dan inflasi tak terkendali tidak dapat dihindari.

Sebaliknya apabila aksi spekulasi telah berakhir dan minyak kembali memasuki harga wajar di $80 meskipun krisis sub prime masih terjadi, akankah USD mengalami Stagflasi? Tentu tidak. Toh dalam harga minyak yang masih tinggi dan laporan loss terjadi di sana sini dan juga laporan Nonfarm Employment Change yang juga terburuk sepanjang sejarah, US masih cukup kuat menanggungnya.

Untuk saat ini rasanya masih terlalu dini mengatakan bahwa Amerika akan mengulang kembali kejadian tahun 70an pada masa Carter. Alasannya, respon yang dilakukan Fed tergolong cukup cepat guna meredam gejolak pasar yang terjadi. Ditambah dengan lumayan sinkron-nya kebijakan Fed dengan US Secretary of Treasury, Henry Paulson dengan menyuntikkan tunjangan pajak dan likuiditas pasar, menyebabkan masyarakat Amerika rasanya masih memiliki cukup asa untuk mempercayai pemerintahan mereka. Memang tidak dapat dikatakan kebijakan yang diambil adalah 10% tepat sasaran. Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh VoA, 3 dari 4 orang yang diwawancarai mengatakan akan menahan uang yang mereka dapatkan dari tunjangan pajak dari pada membelanjakannya. Ini tentu saja merugikan mengingat sebuah ekonomi hanya dapat berjalan ketika roda perdagangan berputar.  Nah mari kita lihat saja bagaimana perkembangan kedepannya. Selain sektor riil yang masih cukup kuat, kita semua pun seharusnya berharap US segera pulih karena walau bagaimana pun US masih menjadi pasar terbesar di dunia.

 

Bagaimana efek Stagflasi bagi trader forex?

Nah ini yang terpenting ha..ha..ha. Dalam keadaan Stagflasi ataupun kondisi ekonomi yang mengkhawatirkan, berawas-awaslah terhadap permainan suku bunga. Ketika sebuah perekonomian melesu dan inflasi bertambah, Bank Sentral pasti akan menaikkan atau justru menurunkan suku bunganya. Dengan demikian Anda akan mendapatkan sebuah gejolak di pasar uang. Bagi yang tidak tahu bagaimana pasar mengekspresikan kondisi ini bisa berarti kerugian. Sebaliknya untuk mereka yang tahu bagaimana kira-kira reaksi pasar, maka itu adalah sebuah keuntungan besar.

   

Related Links

http://economics.about.com

http://econ161.berkeley.edu

http://www.investopedia.com

http://www.nytimes.com

 

Add comment

Fasilitas ini disediakan untuk komunikasi dengan bahasa yang sopan. Tidak diizinkan melakukan aktifitas iklan, promosi, penghinaan, pencemaran nama baik, hal berkaitan sara. Pelanggaran akan dikenai sanksi tegas.


Security code
Refresh

belajarforex.com